Connect with us

Barito Selatan

Asprindo : Libatkan Daerah, Jangan Hanya Jadi Penonton

Masyarakat lokal masih seringkali menjadi momok bagi sebuah Perusahaan Besar Swasta (PBS), yang sementinya menjadi mitra perusahaan.

LANSCAPE salah satu perusahaan pertambangan batubara di wilayah Barito. Hingga kini lobang-lobang bekas tambang ini dipertanyakan reklamansinya. Foto | Dok/Kalteng Independen

BUNTOK – Tak serta merta beoperasinya sebuah perusahaan di suatu daerah membawa pengaruh positif bagi masyarakat lokal. Perilaku diskriminatif dan ketimpangan sosial acapkali menjadi pemandangan umum yang dialami masyarakat lokal di tanah mereka sendiri.

Buktinya, meski perusahaan tambang batubara PT Multi Tambangjaya Utama (PT MUTU) , yang tahun ini mulai mengekplorasi wilayah Kabupaten Barito Selatan (Barsel) Provinsi Kalimantan Tengah sebagai lokasi produksi dan jalur pendistribusian batubara, namun pengusaha lokal dan masyarakat setempat masih banyak yang menjadi penonton.

“Kita tidak sudi jika masyarakat gigit jari dengan keberadaan sebuah perusahaan sekelas PT MUTU. Daerah mesti diberdayakan agar punya kesempatan bermitra dan berusaha. Sekarang Porsi daerah justru dibawah sub-kontraktor yang bermitra dengan mereka (PT MUTU),” kata Ketua Asosiasi Pengusaha Bumi Putra Indonesia (Asprindo), Beneryadi di Buntok, Senin (21/1/2019).

Selain memanfaatkan jalur darat, PT MUTU juga memanfaatkan jalur sungai Barito di wilayah Barsel sebagai jalur pendistribusian batubara. Batubara yang diangkut menuju laut Jawa berpangkal dari Stockfile yang berada di Desa Teluk Betung Kecamatan Karau Kuala, Barsel.

Dari Stockfile itulah produksi batubara berbilang ratusan sampai ribuan ton per tahun menjadi sumber pendapatan bagi PT MUTU dengan sejumlah sub kontraktor yang bermitra dengan perusahaan pertambangan itu.

“Semua pekerjaan mereka PT MUTU itu disub-kontrakkan dengan sejumlah perusahaan seperti PT Madani. Sedangkan perusahaan daerah malah akan men-sub pekerjaan dari sub kontraktor mereka,” sambungnya.

Yang paling disesalkan, ujar politisi Partai Gerindra ini, pihak sub-kontraktor PT MUTU malah cenderung tidak melakukan pembinaan atau pemberdayaan terhadap perusahaan daerah.

“Ini diskriminatif dengan perusahaan lokal. Padahal perusahaan lokal adalah pilar pendayung ekonomi di daerah,” sesalnya.

Beneryadi menjelaskan, melimpahnya Sumber Daya Alam (SDA) yang ada di Barsel, mestinya dapat mensejahterakan masyarakat. Justru dengan tidak melibatkan pengusaha lokal secara langsung di khawatirkan akan menimbulkan gejolak sosial.

“Win-win solution adalah keputusan yang ditunggu-tunggu agar masyarakat Barsel tidak hanya jadi penonton di daerahnya sendiri,” paparnya.

Seperti diketahui, PT Multi Tambangjaya Utama atau PT MUTU adalah perusahaan pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) generasi III dengan kode wilayah KW 04 PB 0134.

Wilayah PKP2B terletak di daerah Kabupaten Barito Selatan, Barito Utara dan Barito Timur, Provinsi Kalimantan Tengah. Berdasarkan Surat Keputusan (SK) Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral, nomor 321.K/30/DJB/2009 tanggal 26 Juni 2009, tentang permulaan tahap kegiatan operasi produksi pada wilayah Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara PT Multi Tambangjaya Utama seluas 24.970 Ha, untuk jangka waktu selama 30 tahun yang berlaku mulai tanggal 4 Mei 2009 sampai dengan 3 Mei 2039. (Tim KI/KI-01)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Barito Selatan