Connect with us

Headline

Leonard ke SOPD : Harusnya Kita Malu Ada Warga Tinggal di Bekas Kandang Ayam

SERUYAN – Pjs Bupati Seruyan Leonard S Ampung, sangat menyesalkan ada warga miskin yang tinggal ditempat yang tidak layak dan tinggal di bekas kandang ayam. Namun Dinas terkait, seolah membiarkannya hingga bertahun-tahun.

Yang lebih ironisnya lagi, tempat tinggal warga tersebut berada di Ibukota Kabupaten Seruyan.

Sementara, data yang didapat Tabengan, setiap tahun Pemkab melalui instansi terkait seperti Dinas Sosial (Dinsos) Seruyan melakukan pendataan terhadap warga miskin dan rumah tidak layak huni di sejumlah Kecamatan.

Sebagai pelayanan masyarakat kata Leonard, dia merasa malu ketika mengetahui ada warga Seruyan yang tinggal di tempat sangat tidak layak seperti bekas kadang ayam, apalagi tempatnya masih diwilayah perkotaan yang notabene dekat dengan pemerintahan. Bahkan informasi itu kemudian viral di media sosial setelah di blow up media.

Itu dikemukakan Leonard ketika menyampaikan arahannya di acara Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat Kabupaten di Aula Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Selasa (3/4/2018).

“Malu kita (Pemda), apalagi posisi tempat tinggalnya masih di dalam kota,” sesalnya.

Terkait hal itu, Leonard langsung menginstruksikan kepada Sekretaris Daerah (Sekda) Seruyan dan satuan organisasi perangkat daerah (SOPD) terkait untuk segera memberikan bantuan agar warga yang tadinya tinggal di bekas kandang ayam dapat hidup dengan layak.

“Walaupun yang bersangkutan tidak punya hak tanah. Pemkab Seruyan harus bisa memfasilitasi agar warga itu dibuatkan tempat tinggal layak,” ujarnya lagi.

“Saya minta ditangani segera, karena ini adalah amanat Undang-Undang Dasar 1945 bahwa tiap-tiap warga negara berhak atas penghidupan yang layak,” tegasnya.

Sebelumnya, warga kurang mampu di Sungai Mitak, Desa Persil Raya Kecamatan Seruyan Hilir tinggal di sebuah gubuk bekas kandang ayam milik keluarganya.

Informasi itu, kemudian diekspos habis-habisan oleh sejumlah media lokal dan nasional.

Nuryana, (35), ternyata sudah tinggal bersama anaknya Halimah, (15), selama kurang lebih tiga tahun  di gubuk bekas kandang ayam berukuran 3×3 meter yang berada di belakang rumah warga lainnya tidak jauh dari pemukiman.

Penuturan Nuryana, pekerjaannya sehari-hari tidak menentu, terkadang dia mengambil upah menanam padi hingga mencarikan sayur untuk orang. Untuk berangkat bekerja Nuryana menggunakan sepeda pancal karena perjalanan menuju tempatnya bekerja jauh dari pemukiman.

“Penghasilan tidak menentu paling banyak Rp30 ribu sehari, itu sudah besar,” ujarnya.

Dengan kondisi seperti itu, Nuryana juga tidak terlalu berharap mendapatkan bantuan dari pemerintah karena menurutnya, setiap hari dia hanya fokus bekerja apa saja untuk membiayai kebutuhannya sehari-hari serta keperluan sekolah anaknya.

“Setiap hari kan anak saya juga perlu uang jajan di sekolah,” terangnya.

Meski demikian, Nuryana mengaku tidak kesulitan untuk mencari air untuk MCK karena gubuknya berada tidak jauh dari sungai Seruyan.

Surat Keterangan Tidak Mampu Tidak Berlaku di Sekolah

Sebenarnya, kata Nuryana untuk membayar biaya sekolah sepeti biaya OSIS sebulan Rp25 ribu dan membeli buku sekolah pun tidak mampu ia bayari. Dia sempat berinisiatif membuat surat keterangan tidak mampu di desa,

“Surat tidak mampu pun tidak berlaku, gurunya tidak bersedia, kalau nanti ada uang harus dicicil,” tuturnya.

Kondisi itu katanya, berbeda dengan di Kota Palangka Raya dimana dia pernah tinggal. Waktu itu dia membuat surat tidak mampu dan pihak sekolah memahami sehingga dibebaskan dari segala biaya. (KI-02)

Tinggalkan Komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Headline